Pelatihan Drone Pertanian Perkuat Kompetensi SDM dalam Modernisasi Pertanian
Jayapura, 2 Juli 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua menggelar Pelatihan Pengoperasian Drone Pertanian sebagai upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian dalam mendukung penerapan teknologi modern di sektor pertanian. Kegiatan yang berlangsung di Aula BRMP Papua ini merupakan rangkaian pelatihan yang diawali dengan penyampaian materi teori, sementara praktik lapangan dijadwalkan pada 3 Juli 2026.
Pelatihan dibuka oleh Kepala Bagian Tata Usaha BRMP Papua, Muhammad Yasin, S.T., M.M. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa penguasaan teknologi pertanian modern menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi pertanian. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi perlu terus dilakukan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Peserta pelatihan terdiri dari pegawai BRMP Papua, BRMP Papua Tengah, BRMP Papua Pegunungan, serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam mengoperasikan drone pertanian sehingga dapat mendukung implementasi mekanisasi dan modernisasi pertanian di wilayah kerja masing-masing.
Materi pertama disampaikan oleh Noor Rochman dari BRMP Mekanisasi Pertanian (Mektan) yang membahas pengenalan drone pertanian, meliputi jenis-jenis drone, regulasi hukum penggunaan drone, manfaat penerapan drone dalam pertanian, serta dasar-dasar pengoperasiannya.
Selanjutnya, materi teknis disampaikan oleh M. Firdaus Idris dari PT Corin Mulia Gemilang Maxxi mengenai panduan penggunaan Drone Maxxi. Materi mencakup pengenalan bagian-bagian remote control (RC) Drone Antasena 22, tahapan pemetaan (mapping) sebelum penerbangan otomatis, teknik pengoperasian drone secara otomatis maupun manual, aspek-aspek yang perlu diperhatikan selama pengoperasian, perawatan drone, hingga kelebihan dan keterbatasan penggunaan drone dalam kegiatan pertanian.
Pelatihan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan diskusi antara peserta dan narasumber. Pembahasan meliputi pemanfaatan berbagai fitur drone, penentuan ketinggian terbang yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman dan kondisi angin di lapangan, kapasitas angkut drone, serta efektivitas penggunaan mode otomatis dan manual berdasarkan luasan lahan. Pada lahan dengan skala sempit, pengoperasian secara manual dinilai masih efektif, sedangkan pada lahan yang luas atau berbentuk hamparan, mode otomatis lebih direkomendasikan karena mampu menghasilkan kecepatan kerja yang lebih konsisten dan efisien terhadap penggunaan baterai.
Diskusi juga membahas pengaruh ketersediaan jaringan internet terhadap proses pemetaan. Pada wilayah dengan keterbatasan sinyal, proses mapping dapat dilakukan secara manual, meskipun hal tersebut bergantung pada spesifikasi drone yang digunakan karena terdapat tipe drone yang memerlukan koneksi internet saat pemetaan dan ada pula yang dapat beroperasi secara offline.
Selain itu, peserta memperoleh penjelasan mengenai checklist kondisi cuaca sebelum penerbangan, opsi kepemilikan lisensi pilot drone pertanian, hak pengguna (user) drone pertanian, hingga berbagai aspek teknis operasional dalam pengaplikasian pupuk menggunakan drone.
Setelah sesi diskusi, pelatihan dilanjutkan dengan pengenalan drone pertanian secara langsung kepada seluruh peserta. Pada sesi ini, narasumber memperkenalkan berbagai komponen drone beserta fungsinya sebagai bekal sebelum praktik lapangan yang akan dilaksanakan pada hari berikutnya.
Peserta juga memperoleh kesempatan untuk mencoba menerbangkan drone secara bergantian di bawah pendampingan narasumber. Melalui pengalaman tersebut, peserta diharapkan menjadi lebih familiar dengan karakteristik, pengoperasian dasar, serta pengendalian drone sehingga lebih siap mengikuti sesi praktik pengoperasian di lapangan.